Jumat, 01 Juni 2012

0 Pengembangan Kurikulum Berbasis Masyarakat di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah Salatiga Jateng

Pengembangan Kurikulum Berbasis Masyarakat di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah Salatiga Jateng

Masyarakat memiliki peran dan tanggung jawab yang sangat besar dalam proses pengembangan kurikulum di satuan pendidikan, mengingat sekolah adalah miniatur masyarakat yang kelak menjadi pencetak generasi penerus dalam melestarikan warisan budaya. Keterlibatan masyarakat dalam proses pengembangan kurikulum berbasis masyarakat meliputi perumusan desain, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Fokus tulisan ini meletakkan pola, konsep, strategi dan landasan masyarakat dalam perannya mengembangkan kurikulum di sebuah sekolah alternatif. Sekolah alternatif memiliki latar belakang dan tujuan yang berbeda dengan sekolah konvensional sehingga memiliki karakteristik dan pola pengembangan yang berbeda pula. Meskipun demikian bentuk keterlibatan masyarakat dalam pengembangan kurikulum ini dapat dijadikan sebagai referensi bagi sekolah formal maupun nonformal lainnya.
A. Pendahuluan
Undang-Undang No. 20 tahun 2003 menyebutkan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dengan demikian, pendidikan nasional    berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban  bangsa  yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,  cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan adanya daya dukung yang maksimal dari seluruh pihak sesuai dengan peran dan tanggung jawab masing-masing.
Secara eksternal bisa kita amati bahwa tingkat pencapaian pendidikan kita belum maksimal, terbukti dengan masih banyaknya angka pengangguran akibat naiknya angka putus sekolah. Sampai tahun 2000, lebih dari enam juta anak usia sekolah yang tidak mampu menyelesaikan pendidikan tingkat dasar (Prasetyo: 2006: 7). Beberapa faktor penyebab meningkatnya angka putus sekolah diakibatkan oleh biaya persekolahan yang relatif mahal. Tidak semua orang tua mampu memenuhi biaya sekolah bagi anak-anaknya.. Hanya masyarakat yang memiliki harta lebih yang mampu meneruskan sekolah anak-anaknya.
Adanya siswa yang tidak dapat menyelesaikan pendidikan dasar selama 9 tahun disebabkan oleh tiga kemungkinan. Pertama, adanya siswa yang mengulang kelas. Siswa yang mengulang kelas memerlukan waktu yang lebih lama dari 9 tahun untuk menyelesaikan pendidikan dasar. Kedua, adanya siswa putus sekolah, baik di tingkat SD/MI maupun di SMP/MTs. Kalau siswa putus sekolah ini tidak ditampung pada lembaga pendidikan alternatif lainnya, maka mereka ini tidak akan menyelesaikan pendidikan dasar. Ketiga, adanya lulusan SD/MI atau yang setara yang tidak melanjutkan ke SMP/MTs atau yang setara. Jika lulusan tersebut tidak ditampung di lembaga pendidikan manapun, termasuk pendidikan luar sekolah, maka mereka tidak akan dapat menyelesaikan pendidikan dasar, terutama yang terjadi di tingkat SD/MI mejadi faktor potensial untuk menjadi warga buta aksara, yang akan menjadi beban sosial di kemudian hari (Diknas: 2006: 26-27).
Sementara itu, dalam proses pembelajaran di sekolah lebih menekankan pada konteks pengajaran, transisi, dan transmisi,bukan transformasi. Siswa seringkali dipandang oleh guru sebagai botol kosong yang tidak memiliki apa-apa, datang ke sekolah untuk diisi air. Padahal siswa memiliki, bakat, minat dan karakteristik yang perlu digali dan dikembangkan menjadi manusia yang seutuhnya melalui proses pendidikan yang wajar.
Kontrol guru yang rendah terhadap minat dan kebutuhan siswa berakibat pada lemahnya motivasi siswa dalam belajar. Hampir terjadi di banyak tempat, administrasi dan birokrasi, dipandang sebagai agenda yang lebih penting dan utama dari pada implementasi kurikulum. Pihak sekolah seringkali mengambil kebijakan yang bersifat kaku dan tunggal karena tata aturan yang harus dipatuhi secara struktural.
Sekolah sebagai tempat berinteraksi bukan hanya menjadi milik guru, siswa dan pemerintah. Tetapi lebih dari itu, di mana masyarakat harus terlibat aktif dalam pengembangan kurikulum, mengingat sekolah adalah miniatur masyarakat. Sering kita amati banyaknya masyarakat yang cenderung apatis terhadap sekolah. Masyarakat, dalam hal ini orang tua / wali murid, sering kali terlibat perannya di sekolah hanya pada saat membahas biaya persekolahan anaknya. Banyak masyarakat yang menganggap dirinya telah menunaikan kewajibannya bila telah memenuhi persyaratan pembiayaan belajar anaknya di sekolah.
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan telah dirumuskan bahwa tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Sementara itu, seperti yang telah diungkapkan di atas bahwa dengan masih banyaknya angka pengangguran dan putus sekolah tersebut, mengantarkan kita untuk berpikir lebih jauh lagi tentang pendidikan Indonesia ke depan.
Djohar (Kompas : 2006 : 150-151) menyatakan  beberapa kelemahan sistem pendidikan kita saat ini dapat dikategorikan menjadi beberapa kelompok besar, antara lain ialah:
1.       Lingkungan kita belum mendidik
2.       Pendidikan kita belum memperhatikan ciri anak
3.       Siswa dibebani biaya pendidikan
4.       Belum ada integrasi sistem pendidikan antara pendidikan informal, nonformal dan formal.
5.       Pendidikan kita cenderung diskriminatif.
6.       Pembelajaran kita masih konvensional.
7.       Pengajaran kita, belum memiliki muatan pendidikan.
8.       Pola pendidikan kita belum mengarah kepada strategi membangun budaya.
9.       Pendidikan kita belum menyenangkan siswa, belum memerdekakan bahkan terasa membelenggu.
10.   Belum terjadi proses pembelajaran yang bermakna.
11.   Pendidikan kita didominasi oleh kegiatan mengajar.
12.   Pendidikan kita cenderung berorientasi kepada intelektualitas.
13.   Kita belum melakukan evaluasi hasil pendidikan.
14.   Pendidikan kita pada jangka panjang harus mengintegrasikan antara ilmu dan agama yang keduanya untuk keselamatan manusia pada umumnya.
Selanjutnya UU Sisdiknas telah menjelaskan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu dan berkesempatan meningkatkan pendidikan sepanjang hayat. Masyarakat sebaiknya banyak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi program pendidikan. Masyarakat juga berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan.
Respon atas kondisi pendidikan di atas pada akhirnya melahirkan gagasan dari berabagi pihak untuk menyelenggarakan persekolahan, pendidikan dan pembelajaran yang bersifat unggulan,  sebagai alternatif pemecahan masalah pendidikan di Indonesia.
Berdasarkan pada deskripsi di atas, menjadikan warga masyarakat Desa Kalibening yang berada di kaki Gunung Merbabu melakukan perenungan serius atas berbagai kasus kolektif yang menimpa sebagian besar anak mereka yang tidak mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya karena alasan biaya. Disamping itu, sebagian besar masyarakat memiliki pemahaman yang sama bahwa untuk menjadi manusia yang pintar, cerdas dan bermanfaat tidaklah harus mendasarkan dan bersandar pada sekolah. Terlebih lagi dengan melihat fenomena semakin pudarnya ikatan emosional terhadap kultur masyarakat. Sementara, akar masyarakat merupakan norma yang terhitung fundamental (Musa, 2006 : 11).
Berawal dari paguyuban petani desa yang memiliki keresahan sama itulah kemudian muncul gagasan untuk membuat sekolah berbasis masyarakat. Menurut Naswil Idris,  salah seorang pakar Diknas Indonesia, SMP Alternatif Qaryah Thayyibah di Kalibening Salatiga Jawa Tengah sejajar dengan Tujuh Intellegent Communities sebagai keajaiban dunia yang terpilih sebagai pengguna ICT terbaik di dunia tahun 2005. Kampung Issy-Les Moulienauk di Perancis, Kecamatan Mitaka di Tokyo, Kecamatan Pirai di Brazil, sebuah kampung di Singapura, Kampung Sunderland di Inggris, Kota Tianjin di China, dan Kota Toronto di Canada (Musa, 2006 : 221-222).
B. Pembahasan
1. Konsep Kurikulum Berbasis Masyarakat
Undang-Undang No. 20 tahun 2003 pasal 55 memberi rambu-rambu Pendidikan Berbasis Masyarakat, sebagai berikut :
(1)   Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama, lingkungan sosial, dan budaya untuk kepentingan masyarakat.
(2)   Penyelenggara pendidikan berbasis masyarakat mengembangkan dan melaksanakan kurikulum dan evaluasi pendidikan, serta manajemen dan pendanaannya sesuai dengan standar nasional pendidikan.
(3)   Dana penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat dapat bersumber dari penyelenggara, masyarakat, Pemerintah, pemerintah daerah dan/atau sumber lain yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(4)   Lembaga pendidikan berbasis masyarakat dapat memperoleh bantuan teknis, subsidi dana, dan sumber daya lain secara adil dan merata dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah.
(5)   Ketentuan mengenai peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Menurut Hamalik (2006 : 131), kurikulum berbasis masyarakat yang bahan kajian dan pelajarannya ditetapkan di daerah, perlu disesuaikan dengan keadaan lingkungan alam, sosial, ekonomi, budaya serta kebutuhan pembangunan daerah yang perlu dipelajari oleh siswa daerah tersebut.  Hal itu berguna dalam memberikan kemungkinan pada mereka untuk akrab dengan lingkungannya juga terhindar dari keterasingan lingkungannya. Tujuan dari kurikulum tersebut antara lain :
a.       Memperkenalkan siswa terhadap lingkungan-nya.
b.      Membekali siswa kemampuan dan keterampilan yang dapat menjadi bekal hidup mereka di masyarakat.
c. Membekali siswa agar bisa hidup mandiri.
Karakteristik Kurikulum Berbasis Masyarakat
Kurikulum berbasis masyarakat memiliki beberapa karakteristik (Hamalik,  2006 : 132), antara lain :
a.       Kurikulum bersifat realistik.
b.      Kurikulum menumbuh-kan kerjasama dan integrasi antara sekolah dan masyarakat.
c.       Kurikulum memberi kesempatan luas bagi siswa untuk melakukan belajar secara aktif (CBSA), yang dianjurkan oleh teori belajar modern.
d.      Prosedur pengajaran memberdayakan semua metode dan teknik pembelajaran secara sistematik dan bervariasi.
e.       Kurikulum dilandasi konsep pendidikan “Education is here and now”. Pendidikan adalah membantu siswa agar mampu berperan dalam kehidupan sekarang ini dan di sini.
f. Kurikulum berbasis masyarakat, member-dayakan secara optimal semua sumber masyara-kat untuk kepentingan  pembelajaran siswa.
Komponen-komponen Kurikulum Berbasis Masyarakat
Oliva (Hamalik, 2006 : 133) menyatakan ada sejumlah komponen kurikulum yang saling berkaitan, ialah :
a.       Tujuan, filsafat pendidik-an dan psikologi belajar
b.       Analisis kebutuhan masyarakat sekitar (mencakup kebutuhan siswa)
c.       Tujuan kurikulum (TUK dan TKK)
d.      Pengorganisasian dan implementasi kurikulum
e.       Tujuan pengajaran (TIU dan TIK)
f.        Strategi pembelajaran (mencakup model-model pengajaran)
g.       Teknik evaluasi (seleksi awal dan seleksi final)
h.       Implementasi strategi pembelajaran
i.         Evaluasi (evaluasi pembelajaran) dan
j.         Eveluasi program kurikulum
Tahap-tahap Pengembangan Kurikulum Berbasis Masyarakat
Menurut Hamalik (2006 : 134), ada duabelas langkah yang perlu dilaksanakan dalam pengembangan kurikulum, ialah :
Langkah 1: Penentuan tujuan
Langkah  2: Analisis
kebutuhan (masyarakat sekitar kebutuhan siswa).
Langkah 3: Spesifikasi tujuan kurikulum.
Langkah 4: Idem dengan langkah 3.
Langkah 5: Pengorganisasian dan implementasi kurikulum dan struktur kurikulum.
Langkah 6: Spesifikasi tujuan pengajaran (TIU dan TIK).
Langkah 7: Idem dengan langkah 6.
Langkah 8: Seleksi strategi.
Langkah 9: A = Seleksi awal teknik evaluasi
Langkah 9: B = Seleksi final teknik evaluasi (langkah ini dilakukan setelah langkah 5).
Langkah 10: Implementasi strategi pembelajaran aktual
Langkah 11: Evaluasi pengajaran
Langkah 12: Evaluasi program kurikulum.
2. Konsep Pendidikan dan Sekolah Alternatif
Sekolah alternatif memiliki banyak pengertian dan pemaknaan. Adanya kata alternatif mengundang banyak penafsiran bagi orang yang ingin menerjemahkan. dan dalam tinjauan ini akan disajikan beberapa pengertian pendidikan alternatif.
Definisi sekolah alternatif adalah sebuah istilah yang lebih luas disbanding konsep sekolah umum yang diselenggarakan oleh negara atau daerah.
Pendidikan alternatif lebih sebagai bentuk sebuah inisiatif dari sekolah di daerah yaitu sekolah yang dapat melahirkan ijasah pendidikan atau kerjasama lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidik-an bagi siswa beresiko yang tidak mampu menyesuaikan dengan pola sekolah tradisional.
Pendidikan alternatif menggambarkan sejumlah pendekatan pengajaran dan pembelajaran dari pada sekolah tradisional. Pendekatan-pendekatan ini dapat diterapkan pada seluruh siswa pada segala umur, dari masa anak-anak sampai remaja, pada seluruh jenjang pendidikan.
Dalam definisi tersebut istilah pendidikan alternatif juga dikenal dengan pendidikan non-tradisional yang mengacu pada pendidikan di luar pendidikan tradisional untuk seluruh kelompok dan tingkat pendidikan, termasuk desain pendidikan berke-butuhan khusus filosofi dan metode alternatif.
Visi, Misi, Strategi dan Aksi Pendidikan Alternatif di Indonesia
Djohar (Kompas : 2006 : 151-153) mengemukakan  visi, misi, strategi dan aksi pendidikan alternatif di Indonesia sebagai berikut:
Visi
Menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif yang dapat menghasilkan pendidikan menyenangkan dan bermutu sehingga anak mampu membangun pribadi dan sosial budaya untuk mempersiapkan diri dalam mengadapi hidup pada masanya.
Misi
Misi pendidikan diarahkan pada upaya:
a.       Menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif
b.      Mewujudkan pendidikan yang membangun pribadi berkemampuan hidup mandiri dalam kebersamaan dengan masyarakat
c.       Mewujudkan pendidikan yang mampu membangun manusia berperadaban dan berbudaya
d.      Menciptakan pendidikan yang mampu mengendalikan emosional
e.       Menciptakan pendidikan yang menumbuhkan skill kognitif, afektif dan psikomotorik.
f.       Menciptakan pendidikan yang mengembangkan kreativitas
g.      Menciptakan pendidikan yang mengembangkan multiple intelegensi
h.      Mewujudkan pendidikan yang bermakna
i.        Mewujudkan sistem pendidikan yang integratif
Strategi
a.       Menyelenggarakan pendidikan dengan kondisi lingkungan yang mendidik
b.       Menyelenggarakan proses pembelajaran yang kontekstual dan berbasis lingkungan
c.       Menyelenggarakan proses pembelajaran yang faktual dan konseptual
d.      Menyelenggarakan pembelajaran yang membangun skill kognitif, efektif dan psikomotorik, menumbuhkan kreativitas, dan membangun kemampuan untuk pengendalian emosi
e.       Menyelenggarakan pendidikan yang membangun fungsi hati
f.        Memperbaiki sistem evaluasi pendidikan yang proporsional.
g.       Menyelenggarakan pendidikan terpadu antara pendidikan informal, nonformal dan formal
h.       Menyelenggarakan pendidikan yang dapat mengembangkan multiinteligensi.


Aksi
a.       Diciptakan lingkungan sekolah yang dapat mengembangkan diri anak
b.       Guru menciptakan sistem pembelajaran yang mendidik
c.       Guru menerjemahkan kurikulum dengan prosporsional
d.      Guru mengorganisir bahan ajar yang fungsional
e.       Guru menyiapkan objek atau persoalan belajar
f.        Guru menciptakan interaksi belajar siswa yang fungsional
g.       Guru mengembangkan pembelajaran yang demokratis
h.       Guru memonitor belajar siswa
i.         Guru mengenali ciri karakteristik siswa
j.         Guru memfasilitasi belajar siswa secara proporsional
k.       Guru mengevaluasi secara proses-otentik melalui observasi
Elemen Umum Sekolah Alternatif

Beberapa elemen umum dalam sekolah alternatif adalah sebagai berikut :

1.      Program pendidikan alternatif dapat dilaksanakan sebagai:
  • Program afiliasi satu atau lebih sekolah-sekolah atau daerah
  • Bagian dari sekolah alternatif induk
2.      Tempat pendidikan alternatif :
  • Bangunan-bangunan sekolah
  • Komunitas atau pusat rekreasi
  • Organisasi tetangga
  • Lembaga komunitas
3.      Komponen-komponen pendidikan alternatif :
  • Pelayanan pembelajaran komunitas
  • Intensitas monitoring akademik
  • Partnership dengan lembaga lokal
  • Pembelajaran kelompok kecil
  • Pelatihan kecakapan hidup
  • Pelatihan resolusi konflik
  • Partenership dengan organisasi berbasis komunitas
  • Kerja berbasis kesempatan belajar
  • Penjadwalan yang fleksibel
3. Konsep SMP Alternatif Qaryah Thayyibah
Konsep yang dikembangkan berangkat dari kenyataan yang ada, yang meliputi isu lokalitas, rumitnya birokrasi sekolah, persoalan waktu belajar, persoalan biaya, dan penjagaan mutu.
Konsep pilihan yang diterapkan SMP Alternatif Qaryah Thayyibah (hxxp://ww.pendidikanalternatifsalatiga.com) adalah:
1.  Lokalitas
Sekolah SMP alternatif ini dirancang dengan menggunakan kaidah lokalitas.
2.  Murah
SMP alternatif menawarkan sebuah konsep untuk memangkas beberapa pos pengeluaran para orang tua siswa sehingga biaya yang harus dikeluarkan bisa ditekan atau dialokasikan pada sesuatu yang memberi nilai dan manfaat lebih bagi kemajuan belajar.
3. Memangkas birokrasi yang terlalu    umit
SMP Alternatif menawarkan konsep birokrasi pendidikan yang memberdayakan siswa didiknya.
4. Efisiensi biaya dan waktu
Masih berkaitan dengan konsep lokalitas ada konsep penting lainnya yang diajukan, yaitu upaya memikirkan keberlanjutan pendidikan anak-anak.
5. Penjagaan Mutu
Mutu pendidikan merupakan hal yang harus diperhatikan.
6. Partisipasi aktif orang tua / wali siswa
7. Pemberdayaan
Membuat usaha produktif yang berprospektif ramah lingkungan guna peningkatan pendapatan.
Profil SMP Alternatif Qaryah Thayyibah
Dikatakan alternatif karena selama ini sistem pendidikan kita masih membelenggu, dingin, birokratis, dan tidak berpihak (terutama pada kaum miskin dan warga desa). Sebagai konsep tanding dari sistem tersebut Sekolah Menengah Pertama Qaryah Thayyibah (SMPQT) menawarkan prinsip pendidikan alternatif sebagai berikut
Prinsip utama, pendidikan dilandasi semangat membebaskan, dan semangat perubahan ke arah yang lebih baik. Membebaskan berarti keluar dari belenggu legal formalistik yang selama ini menjadikan pendidikan tidak kritis,dan tidak kreatif, sedangkan semangat perubahan lebih diartikan pada kesatuan belajar dan mengajar, siapa yang lebih tahu mengajari yang belum paham.
Prinsip kedua, keber-pihakan, adalah ideologi pendidikan itu sendiri, dimana akses keluarga miskin berhak atas pendidikan dan memperoleh pengetahuan.
Prinsip ketiga, metodologi yang dibangun selalu berdasarkan  kegembiraan murid dan guru dalam proses belajar mengajar,  kegembiraan ini akan muncul apabila ruang sekat antara guru-murid tidak dibatasi, keduanya adalah tim, berproses secara partisipatif, guru sekedar fasilitator dalam meramu  kurikulum.
Prinsip keempat, Meng-utamakan prinsip partisipatif antara pengelola sekolah, guru, siswa, wali murid, masyarakat dan lingkungannya dalam merancang bangun sistem pendidikan yang sesuai kebutuhan.
(hxx://ww.pendidikanalternatifsalatiga.com, dikunjungi pada 20 Februari 2008):
Prinsip-prinsip inilah yang kemudian diturunkan dalam sebuah konsep pendidikan alternatif, bagaimana guru, pengelola, siswa, sarana penunjang dan lingkungannya saling berinteraksi:


Guru
1.   Sebagai syarat utama pendidikan alternatif, guru dan pengelola harus memiliki idealisme dan komitmen tinggi untuk selalu berpihak pada kemiskinan dan lingkungan.
2.   Guru memahami metodologi pendidikan, punya kerangka berfikir yang terbuka.
3.   Menguasai materi yang akan diajarkan, namun tetap menempatkan siswa sebagai tim yang secara bersama-sama berproses dalam belajar
4.   Memahami analisis sosial, sehingga kebutuhan siswa dan masyarakat di lingkungan desanya terpenuhi
5.   Memposisikan diri mengajar disertai belajar. Sehingga secara terus menerus memperbaiki kekurangan-kekurangan.

Siswa
1.   Pemahaman  bukan hapalan, mengetahui tidak sama dengan menelan pengetahuan mentah-mentah.
2.   Kontekstual, sesuai kebutuhan, pemanfaatan lingkungan sebagai media belajar aktif, dialami sendiri dalam kesehariannya.
3.   Muncul semangat kebersamaan. Bagi yang berprestasi secara bersama-sama disepakati diberi penghargaan, siapa yang tahu mengajari yang belum tahu, saling mengevaluasi antar siswa.
4.   Kecerdasan siswa tidak hanya diukur dari nilai (kecerdasan intelektual), tetapi sejauh mana tingkat emosionalnya dan kecerdasan religinya.
5.   Siswa selalu gembira sehingga akan muncul inovasi dan kreatifitas karena proses belajar tidak penuh tekanan.
Sarana Penunjang
Sarana penunjang pendidikan alternatif tidaklah mengharapkan gedung yang hebat, pagar tembok tinggi, seragam mewah, namun bagaimana seorang siswa berfikir global bertindak lokal. Di antara sarana yang diprioritaskan harus ada adalah:
1. IT (Informasi dan Teknologi), lebih spesifik adalah internet, seorang siswa akan menjelajahi pengetahuan tidak hanya sebatas buku paket, tapi ia akan lebih banyak memahami dan mencari pengetahuannya secara terbuka dan bebas.
2.  Pemanfaatan lingkungan sebagai media belajar, siswa secara langsung bersentuhan dengan pertanian, home industri, konservasi alam, air, warung desa, dsb
3.  Tokoh penggerak desa, ini menjadi penting karena dialah yang menjadi fasilitator sekaligus mediator bagi lembaga sekolah, masyarakat, pemerintah lokal, dan pihak-pihak lainnya yang terkait dengan sekolah.
Institusi  Sekolah
Institusi sekolah dikelola dengan prinsip alam dan lingkungan sebagai laboratorium raksasa, arena hidup yang nyata, plural, terus berkembang dan berubah. Prinsip inilah yang menjadi pegangan agar lembaga sekolah selalu dinamis dan progresif dalam perjalanannya, tidak mandeg tetapi terus menyesuaikan perkembangan masyarakat.
SMP Alternatif merupakan lembaga pendidikan yang didirikan atas prakarsa masyarakat Kalibening, kemudian didukung beberapa orang luar yang faham realita pendidikan.
C. Simpulan
Desain kurikulum berbasis masyarakat di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah dapat dusimpulkan sebagai berikut:
a)       Menekankan pada keterlibatan masyarakat dalam proses pengembangan kurikulum.
b)      Pengorganisasian komponen-komponen kurikulum dilakukan secara tentatif sejauh komponen-komponen tersebut bisa memenuhi kebutuhan siswa.
c)       Desain kurikulum yang menyangkut fokus pengajaran di SMPQT terdiri dari tiga desain yaitu Subject Centered Design, Learner Centered Design, dan Problem Centered Design.
d)      Desain kurikulum diorientasikan pada penumbuhkembangan kerjasama dan integrasi antara sekolah dan masyarakat.
e)       Konsep kurikulum memberdayakan secara optimal semua sumber masyarakat untuk kepentingan pembelajaran siswa.
Perencanaan kurikulum berbasis masyarakat di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah dapat disimpulkan sebagai berikut :
a)       Dalam menentukan komponen-komponen kurikulum masyarakat, wali siswa dan seluruh civitas akademik SMPQT ikut dilibatkan.
b)      Otonomi luas dalam merencanakan kurikulum adalah sebagai wujud bentuk demokratisasi dan pendewasaan dalam merancang bangun pendidikan bagi diri siswa.
c)       Untuk kelas 2 dan 3, tujuan kurikulum mengacu pada subject matter dan program pilihan bebas.
d)      Perencanaan materi kurikulum di SMPQT juga diserahkan sepenuhnya pada masyarakat dan anak.
e)      Perencanaan evaluasi direncanakan dan diputuskan secara bersama-sama di internal SMPQT.
Pelaksanaan kurikulum berbasis masyarakat di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah  dapat disimpulkan sebagai berikut :
a)       Siswa memiliki otonomi untuk melangsungkan proses pembelajaran yang mereka inginkan, tanpa menafikkan keterlibatan masyarakat dalam proses pembelajaran.
b)      Perencanaan tujuan pembelajaran tidak mereka batasi tiap kali pertemuan.
c) Perencanaan materi pembelajaran berlangsung pada saat siswa hendak memulai proses pembelajaran atau pada pertemuan sebelumnya.
d)      Sumber belajar bisa didapatkan dari masyarakat, buku, majalah, koran, internet dan masyarakat sekitar.
e)       Metode pembelajaran sangat bervariasi dan dinamis.
f)       Media belajar yang digunakan dalam proses pembelajaran juga sangat bervariasi dengan menyesuaikan pada materi dan tujuan pembelajaran mereka.
g)      Proses pembelajaran siswa bias berlangung dimana saja.
h)      Pola kerja yang dilakukan dan dikembangkan adalah dengan menggunakan pendekatan tim sebagai pilihan yang dinilai efektif.
Evaluasi Kurikulum Berbasis Masyarakat di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah dapat disimpulkan sebagai berikut :
a)       Meletakkan dasar pada konsep kepuasan atas kebutuhan siswa selama belajar.
b)      Kebutuhan waktu yang dipergunakan bersifat tentatif.
c)       Kegiatan evaluasi dilakukan oleh seluruh pihak SMPQT, termasuk masyarakat dan wali siswa.
d)      Para pendamping juga ikut andil dalam menentukan bentuk dari  evaluasi yang dilakukan.
e)       Dalam akhir tahun pembelajaran, biasanya pihak SMPQT meminta siswa untuk membuat report. Report ini biasanya dikerjakan secara individu dalam bentuk hasil karya, dan bentuknya diserahkan pada siswa.

Penulis: Muchamad Solahudin
Credit: http://hipkin.or.id/?p=68


Daftar Pustaka
Ahmad, M. (2006). Pendidikan Alternatif Qaryah Thayyibah, Salatiga: Yayasan Qaryah Thayyibah.
Diknas. (2006). Rencana Strategis Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Nonformal. Jakarta: Dirjen PMPTP
Hamalik, O. (2006). Manajemen pengembangan Kurikulum. Bandung : PT Remaja Rosda Karya.
Hamalik, O. (2006). Implementasi Kurikulum, Bandung: Sekolah Pasca Sarjana UPI Bandung.
Kompas. (2007). Kurikulum yang Mencerdaskan Visi 2030 dan Pendidikan Alternatif. Jakarta:  PT. Kompas Media Nusantara.
April 2008]
SMP Alternatif Qaryah Thayyibah. (2003). Konsep yang diajukan dalam SLTP Alternatif. [Online]. Tersedia:  hxxp://w.pendidikanalternatifsalatiga.com [20 Februari 2008].
SMP Alternatif Qaryah Thayyibah. (2003). Profil SLTP Alternatif. [Online]. Tersedia:  hxxp://ww.pendidikanalternatifsalatiga.com [20 Februari 2008].
Sukmadinata, N.S. (2002). Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas
administrasi Kepala Sekolah
your ad here

komentar

0 Responses to "Pengembangan Kurikulum Berbasis Masyarakat di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah Salatiga Jateng"

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

eNews & Updates

Sign up to receive breaking news
as well as receive other site updates!

Labels