Jumat, 01 Juni 2012

0 Evaluasi Kurikulum Pendidikan Dasar: Satu Usulan

Evaluasi Kurikulum Pendidikan Dasar: Satu Usulan

Pendidikan dasar merupakan wilayah fundamental  bagi pengembangan  sumber  daya manusia. KTSP pada Pendidikan  Dasar sewajarnya dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, diarahkan pada berbagai tuntutan dan kebutuhannya di masyarakat dan untuk masa depan. Implementasi KTSP untuk Pendidikan Dasar  membutuhkan kesiapan berbagai perangkat dan sumber daya manusia, termasuk alat ukur tingkat keberhasilannya. Evaluasi KTSP untuk pendidikan dasar sewajarnya diarahkan pada setiap wilayah kurikulum secara terintegrasi, baik dari sisi ide, dokumen, desain, implementasi dan perangkat-perangkat kurikulum. Kendati saat ini implementasi KTSP pada tingkat Pendidikan Dasar belum sempurna namun selayaknya perangkat evaluasi sudah disiapkan.
A. Pendahuluan
Pendidikan dasar merupakan  jenjang pendidikan yang sangat fundamental, mendasari  pendidikan selanjutnya , yaitu pendidikan menengah dan tinggi. Jenjang pendidikan dasar dimanifestasikan dalam bentuk sekolah dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) serta sekolah menengah pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Fungsi pendidikan dasar secara umum  diarahkan  pada  penanaman nilai, sikap dan rasa keindahan, memberikan dasar-dasar pengetahuan, kemampuan dan kecakapan dalam membaca, menulis dan berhitung dalam kapasitas siswa untuk melanjutkan pendidikannya ke pendidikan menengah dan atau hidup  di masyarakat, sebagaimana menjadi sasaran pendidikan nasional ( Bab IV bagian 1 pasal 12 ayat 1).
Guna  mendukung fungsi tersebut, secara khusus pendidikan dasar diarahkan pada empat modal dasar yang diperlukan siswa untuk kehidupannya, yaitu:
1.      Pengembangan Pribadi
Pengembangan pribadi merupakan pengembangan aspek-aspek yang berkenaan dengan kehidupannya sebagai individu. Aspek yang dikembangkan berkenaan dengan seluruh kepribadiannya, baik secara fisik-motorik, intelektual, sosial, maupun afektif yang dimanifestasikan pada pengembangan diri, kemandirian, kemampuan menjaga dan memelihara diri. Proses pendidikan dan pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar harus memberikan dasar-dasar yang kuat bagi pengembanga aspek ini, agar lulusannya memiliki kepribadian yang sehat dan kuat.
2.      Pengembangan Kemampuan Sosial
Pengembangan kemam-puan sosial diarahkan pada penguasaan kemampuan dalam berinteraksi sosial, menjalin hubungan, kerjasama serta berkomunikasi dengan orang lain. Keluasan jalinan hubungan sosial anak berkembang sejajar dengan perkembangan sosial serta keluasan lingkungan tempat mereka beraktivitas. Pendidikan dan pembelajaran yang diberikan pada jenjang pendidikan dasar harus memberikan dasar-dasar yang kuat bagi anak agar mereka mampu hidup, berinteraksi, bekerjasama dan berkomunikasi secara sehat, saling mendorong dan membantu dalam kemajuan dan kemaslahatan bersama.
3.      Pembekalan untuk lanjutan studi
Pendidikan dasar selayaknya memberikan dasar-dasar penguasaan pengetahuan, kecakapan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam belajar untuk pendidikan lanjutannya. Pemberian dasar-dasar yang kuat pada jenjang pendidikan dasar akan menjadi pijakan atau fundamen pada pendidikan lanjutannya dan untuk kebutuhan tersebut maka  kurikulum harus disajikan secara berkesinambu-ngan, antara kurikulum TK, SD/MI, SMP/MTs, SMU/ MA.
4.   Persiapan Pengembangan Karir
Pendidikan dasar memiliki fungsi dalam memberikan dasar-dasar pada siswa untuk memasuki dunia kerja. Pendidikan dasar belum memberikan pengetahuan,kemampuan atau keterampilan kerja, tetapi dasar-dasarnya diletakkan pada jenjang ini. Disiplin, kejujuran, keteraturan, semangat,  kerjasama, tanggungjawab dll, merupakan karakteristik pribadi yang menjadi dasar untuk dapat dikembangkan pada pendidikan lanjutannya. Dasar-dasarnya perlu diberikan sedini mungkin pada jenjang pendidikan dasar.
Keempat  fungsi tersebut  selanjutnya diarahkan pada membangun landasan bagi berkembangnya potensi siswa agar menjadi  manusia beriman dan bertaqwa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kritis, kreatif, inovatif, mandiri, percaya diri serta menjadi warga negara yang demokratis. Untuk sekolah dasar sasaran lebih terfokus pada  perilaku berbudi pekerti, berahlak mulia dengan menumbuhkembangkan kemahiran menulis, membaca, berhitung, memecahkan masalah, berfikir logis, kritis dan kreatif. Siswa juga  diharapkan memiliki sikap toleran,bertanggungjawab, mandiri serta cakap secara emosional; memiliki dasar-dasar keterampilan hidup,berwiraswasta, etos kerja serta cinta terhadap bangsa dan tanah air.
Pendididkan dasar bukan hanya diarahkan untuk keperluan saat ini, di masa depan pendidikan dasar perlu diarahkan untuk mengakomodasi kualitas sumber daya manusia yang diperlukan untuk kehidupan lulusannya di masyarakat. Pendidikannya juga harus mempertimbangkan keragaman kelompok peserta didik pada masing-masing jenjang dan karakteristik satuan pendidikannya.   Sa’ud ,U.S dan Soemantri, M. (2007: 1120) menyatakan bahwa  pendidikan dasar selayaknya dipandang sebagai esensi kehidupan, baik bagi perkembangan pribadi maupun masyarakat. Misi pendidikan dasar sebaiknya diarahkan untuk mengembangkan sepenuhnya  semua bakat individu, mewujudkan potensi kreatif, termasuk tanggung jawab terhadap hidupnya sendiri. Pengembangan program belajar pada tingkat pendidikan dasar harus meliputi hal-hal esensial yang dibutuhkan peserta didik diwarnai oleh kosep life skill, menggunakan strategi “belajar sepanjang hayat” “, menekankan dasar belajar pada konsep learning to live together ,serta  meliputi demensi-demensi sebagai berikut:
1.    Pengembangan individu aspek-aspek hidup pribadi,  (dimensi pribadi),  meliputi:
a.    Relegi: kesadaran ber-agama
b.    Fisik: kesehatan jas-mani dan pertumbuhan.
c.    Emosi: kesehatan mental dan stabilitas emosi.
d.   Etika : integritas moral
e.    Estetika: pengajaran kulrual dan rekreasi
2.    Pengembangan cara ber-fikir dan tehnik memeriksa kecerdasan yang terlatih (dimensi kecerdasan) , meliputi :
a.    Penguasaan pengetahu-an  berupa    konsep dan informasi
b.    Komunikasi pengetahu-an : keterampilan untuk memperoleh dan me-nyampaikan informasi.
c.    Pencapaian pengetahuan : cara pemeriksaan, diskriminasi dan ima-ginasi.
d.   Hasrat akan pe-ngetahuan   : kesukaan akan belajar.
3.    Penyebaran warisan bu-daya nilai-nilai civic dan moral bangsa (dimensi sosial), meliputi:
a. Hubungan antara ma-nusia: kerjasama, toleransi
b. Hubungan individu-negara : hak, dan kewajiban civil, kesetiaan dan patriotisme, solidaritas  nasional.
c.     Hubungan individu-dunia : hubungan antar bangsa, pemahaman dunia.
d.    Hubungan individu- lingkungan hidupnya : ekologi.
4.    Pemenuhan kebutuhan sosial yang vital  dan menyumbang  kepada kesejahteraan ekonomi, sosal, dan politik lapangan tehnik (dimensi produktif)
a.    Pilihan pekerjaan informasi dan bim-bingan
b.    Persiapan untuk bekerja: latihan dan penempatan
5.    Rumah dan keluarga : mengatur rumah tangga, keterampilan mengerjakan sesuatu sendiri, per-kawinan.
6.    Konsumen : membeli, menjual dan investasi.
B. Kajian Pustaka

1. Kurikulum  Pendidikan  Dasar
Pemberlakukan Undang-Undang Republik  Indonesia Nomor 32 tahun 2004  tentang Pemerintah Daerah menuntut pelaksanaan otonomi daerah dan wawasan demokrasi dalam penyeleng-garaan pendidikan. Hal tersebut diakomodasi dengan diterapkannya kebijakan baru dalam penyusunan kurikulum oleh satuan pendidikan (sekolah dan perguruan tinggi) dalam bentuk KTSP sebagai pedoman operasional penyusunan kurikulum oleh satuan  pendidikan.
Permen Nomor 24 tahun 2006 mengeluarkan  ke-bijakan baru dimana   kurikulum tidak lagi disusun seluruhnya oleh pusat. Tugas pusat (BSNP) hanya merumuskan standar kompetensi lulusan (SKL), kerangka dasar kurikulum, struktur dan panduan penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan. Kelengkapan kurikulum lainnya, yaitu penyusunan indikator, penguasaan kompetensi, silabus, satuan pelajaran (RPP), rencana evaluasi dll, dikembangkan oleh sekolah.
Penyusunan kurikulum satuan pendidikan  tertentu selayaknya dikembangkan sesuai  dengan visi, misi tujuan, kondisi dan ciri khas satuan pendidikannya  namun tetap  berpegang pada prinsip-prinsip yang benar. Beberapa prinsip penyusunan kurikulum  pendidikan dasar  adalah sebagai berikut
1)
Tabel.1
Kelompok dan Muatan Mata Pelajaran
Kelompok Mata Pelajaran Muatan/ Kegiatan
1.     Agama dan ahlak mulia
2.     Kewarganegaraan dan akhlak kepribadian
3.     Ilmu pengetahuan dan teknologi
4.     Estetika
5.     Jasmani, olah raga kesehatan
1.      agama, kewarganegaraan, kepribadian, ipteks, estetika, penjas, olah raga dan         kesehatan
2.      agama, akhlak mulia, kewarganegaraan, bahasa-seni-budaya, penjas.
3.      bahasa, matematika, ipa, ips, keterampilan, kejuruan, teknologi informasi, komunikasi , muatan lokal.
4.      bahasa, seni-budaya, keterampilan dan mulok.
5.      pendidikan jasmani, olah raga , kesehatan , ipa dan munlok.
Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
2)        Beragam dan terpadu,
3)        Tanggap tehadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni,
4)        Relevan dengan kebutuh-an kehidupan,
5)        Menyeluruh dan ber-kesinambungan,
6)        Belajar sepanjang hayat,
7)        Seimbang anatara ke-pentingan nasional dan daerah.
Keseluruhan materi kurikulum yang jadi muatan mata-mata pelajaran pada pendidikan dasar dan menengah dibagi atas lima kelompok mata pelajaran sebagaimana disajikan sebagai berikut:
Berpegang pada pengelompokkan mata pelajaran yang telah diuraikan tersebut selanjutnya telah tersusun kerangka dasar dan struktur kurikulum SD/MI dan SLTP/ MTs  sebagai berikut:
Tabel 2
Struktur Kurikulum SD/MI
No KOMPONEN Kelas& Alokasi Waktu
I II III IV V VI
1 Pendidikan Agama 3
2 Pendidikan Kewarganegaraan 2
3 Bahasa Indonesia 5
4 Matematika 5
5 Ilmu Pengetahuan Alam 4
6 Ilmu Pengetahuan Sosial 3
7 Seni dan Budaya 4
8 Penjas, OR dan Kesehatan 4
B Muatan Lokal 2
C Pengembangan Diri 2*)
Jumlah 26 27 28 32
Tabel 3
Struktur Kurikulum SMP/MTs
No Komponen VII VIII IX
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Pendidikan Agama
Pendidikan Kewarganegaraan
Baha Indonesia
Bahasa Inggris
Matematika
IPA
IPS
Seni dan Budaya
Penjas, OR dan Kesehatan
Keterampilan/ TI dan Komunikasi
2
2
4
4
4
4
4
2
2
2
2
2
4
4
4
4
4
2
2
2
2
2
4
4
4
4
4
2
2
2
B Muatan Lokal 2 2 2
C Pengembangan Diri 2*) 2*) 2*)
Jumlah 32 32 32





























Pada kelas-kelas rendah (I-III) digunakan model pengorganisasian isi kurikulum yang bersifat terintegrasi. Dalam model kurikulum ini tidak ada nama-nama mata pelajaran yang terpisah sebagaimana disajikan di kelas V sampai  VI. Isi atau materi kurikulum dirumuskan dalam bentuk tema-tema. Tema-tema tersebut bukan saja mengintegrasikan  materi berbagai mata pelajaran ( Bahasa, IPA, IPS, Matematika) namun juga mengintegrasikan  ranah-ranah tujuan  pembelajaran (kognitif, afektif psikomotor). Model kurikulum ini dalam pembelajarannya juga menggunakan pembelajaran tematik, materi pelajaran dipelajari secara terpadu dengan pembelajaran yang bervariasi. Dari aspek psikologis, model kurikulum terintegrasi memang cocok digunakan pada kelas-kelas rendah di sekolah dasar karena sesuai dengan salah satu prinsip perkembangan , bahwa perkembangan dimulai dari yang bersifat umum menuju khusus. Sejalan dengan hal tersebut maka sangat tepat bila pada tingkat TK dan SD kelas rendah digunakan model kurikulum terintegrasi-tematik. Pembelajaran tema-tik, sepertihalnya pembel-ajaran lain sangat dianjurkan menggunakan pendekatan multi metode-multi media dengan model-model dan metode pembelajaran yang mengaktifkan siswa.
Kurikulum pendidikan dasar juga menyajikan pelajaran Pengembangan Diri sebagai salah satu aspek yang perlu dikembangkan. Salah satu fungsi utama sekolah adalah membantu dalam pe-ngembangan diri, yaitu pengembangan pribadi sebagai individu. Integritas dan kesehatan pribadi anak sebagai individu, mendasari perkembangan lainnya, baik kemampuan sosial, kesiapan untuk melanjutkan studi maupun pengembangan karir.
Pengembangan diri diarahkan pada pengembangan ke-pribadian anak secara utuh, mandiri dan produktif. Pribadi yang utuh adalah pribadi yang seimbang, harmonis dalam berbagai aspek  perkembangannya. Pribadi mandiri adalah pribadi yang mampu mengurus, memelihara, menjaga, memenuhi kebutuhan-nya sendiri. Pribadi yang produktif adalah pribadi yang mampu menghasilkan sesuatu pemikiran, rencana, hasil karya, mampu memberikan bantuan, layanan, jasa  serta kebaikan kepada orang lain. Guru-guru dalam setiap pembelajarannya dapat membantu pengembangan aspek ini. Guru pembina kegiatan ekstra kurikuler dapat mengembangkannya melalui berbagai kegiatan ekstra kurikuler.
2. Pentingnya  Evaluasi Kurikulum Bagi Pendidikan Dasar
Pendidikan dasar berkenaan dengan pendidikan pada tingkat dasar yang diarahkan pada dua sasaran utama yang sangat strategis, yaitu pengembangan pribadi dan kemampuan sosial. Dua wilayah sasaran yang dalam upaya pencapaiannya membutuhkan dukungan perangkat, sistem serta proses pembelajaran yang  sesuai untuk berbagai kebutuhan  dan tidak ketinggalan jaman.
Kurikulum pendidikan dasar berkaitan dengan pengembangan manusia , berupa pengembangan pribadi, potensi, dan kemampuan siswa yang direalisasikan dalam berbagai bentuk kegiatan atau perbuatan belajar. Siswa pada pendidikan dasar adalah manusia yang unik, memiliki karakteristik, perkembangan kemampuan serta cara-cara berinteraksi atau belajar tersendiri. Kebaikan desain kurikulum, dalam arti kesesuaian dengan tuntutan lapangan dan ketepatan perumusannya sama pentingnya dengan kebaikan proses kurikulum atau proses implementasinya. Inti dari implementasi kurikulum adalah pembelajaran dalam arti luas sebab pembelajaran dapat berlangsung di dalam dan luar kelas namun  masih dalam lingkungan sekolah atau di luar sekolah (di rumah, di masyarakat atau pusat-pusat sumber belajar). Pembelajaran dapat berlangsung dengan atau tanpa guru , mengkaji teori atau praktek , yang diberikan, diarahkan, ditugasi guru atau atas inisiatif sendiri  (hidden curriculum). Pembelajaran yang baik  bukan hanya diarahkan pada kemampuan penyeleseian tugas-tugasnya di masa depan tetapi prosesnya disesuaikan dengan karakteristik dan kemampuan peserta didik dengan menempatkan siswa sebagai subyek belajar sehingga kesesuaian implementasi kurikulum, khususnya proses pem-belajaran dengan tuntutan dan kebutuhan lapangan serta karakteristik dan kemampuan siswa perlu secara berkala dievaluasi.
Keberhasilan program  serta tercapainya tujuan dan sasaran pendidikan dasar  tidak hanya ditentukan oleh ketepatan dan kebaikan desain atau implementasi kurikulum (pembelajaran) namun juga ketersediaan sarana prasarana , fasilitas, media dan sumber belajar. Guna menjamin kontinuitas serta kemudakhan dalam melakukan penyempurnaan maka seluruh komponen, baik desain, implementasi serta faktor-faktor penunjang lain perlu dievaluasi secara berkala. Hanya dengan evaluasi (dan penyem-purnaan) yang kontinu terhadap aspek-aspek tersebut maka proses dan hasil pendidikan sebagaimana diuraikan di  atas dapat dicapai.
3. Teori  dan Evaluasi Kurikulum
Kurikulum merupakan  bidang kajian yang sangat luas, terbukti banyaknya definisi dan konsep yang dikemukakan berbagai ahli. Sebagian teori menekankan kurikulum sebagai rencana, sedang yang lain pada inovasi, dasar-dasar filosofis  atau  konsep-konsep yang diambil dari ilmu perilaku manusia. Secara sederhana teori kurikulum diklasifi-kasikan pada isi kurikulum,situasi pendidikan dan organisasi kurikulum.
Penekanan pada isi kurikulum merupakan strategi pengembangan yang paling lama dan banyak digunakan namun me-merlukan banyak penyempurnaan.
Pengembangan kurikulum yang menekankan isi bersifat material centered. Kurikulum memandang siswa sebagai penerima resep yang pasif. Kurikulum bisa diukur , memiliki tujuan, yang apabila telah ditransfer kepada siswa  maka dapat dikuasai siswa. Hal ini merupakan engineering approach.
Konsep kurikulum yang menekankan isi, memberi perhatian besar pada analisis pengetahuan  baru yang ada, membutuhkan  waktu saat  mempersiapkan situasi belajar dan menyatukannya dengan tujuan pengajaran yang cukup lama. Kurikulum ini sangat mengutamakan peranan desiminasi. Meskipun  belum tentu merupakan produk kurikulum yang baik namun kurikulum menekankan isi dapat dipaksakan  melalui birokrasi. Tipe kurikulum ini mengikuti model penyebaran dari pusat ke daerah.
Teori kurikulum dengan penekanan situasi pendidikan  lebih menekankan pada masalah, bersifat khusus, sangat memperhatikan dan disesuaikan dengan lingkungan. Kurikulum tipe ini  menghasilkan  kurikulum  berdasarkan lingkungan  sehingga dapat merefleksikan dunia kehidupan dari lingkungan siswa. Kurikulum  tipe ini kurang menekankan pada spesifikasi isi dan organisasi namun lebih menunjukkan fleksibilitas dalam interpretasi dan pelaksanaannya. Kurikulum disusun  sesuai keadaan. Pengembangan kurikulumnya bersifat lokal individu dan khas.
Tipe ketiga adalah tipe kurikulum yang menekankan organisasi., yang sangat menekankan proses belajar mengajar. Tipe kurikulum ini sangat memberi perhatian pada sosok siswa. Konsep belajarnya sangat me-nekankan  siswa aktif namun bukan aktifitas yang sudah diprogramkan dengan ketat.Siswa memiliki kesempatan dan di doronng untuk berinovasi serta menyatakan kreativitasnya. Tipe kurikulum ini secara relatif bersifat lepas dari siatuasi lingkungan  dengan inti kurikulum  bukan pada bahan yang dipelajari siswa tetapi pada teacher guide.
Perbedaan tiga konsep tersebut di atas  pada akhirnya menimbulkan perbedaan dalam rancangan evaluasinya. Model evaluasi komparatif atau menekankan objektif sangat sesuai bagi kurikulum yang bersifat rasional dan menekankan isi. Evaluasi untuk kurikulum yang menekankan situasi lebih sulit disusun  karena kontek evaluasi lebih komplek, banyak tujuan. Dengan menggunakan konsep Ralph Tylor atau Benyamin Bloom bisa dibuat suatu modifikasi dengan menyusun tujuan  yang bersifat universal yang dapat digunakan pada semua situasi, walaupun untuk  tujuan yang bersifat umum  lebih sulit menyusun alat evaluasinya. Pada kurikulum yang menekankan organisasi, tugas evaluasi lebih sulit lagi  karena isi dan hasil kurikulum bukan hal yang utama, hal utamanya adalah aktivitas dan kemampuan siswa. Salah satu solusi untuk masalah itu adalah dengan pendekatan yang besifat elektik.
Model evaluasi kurikulum  berkaitan erat dengan konsep kurikulum yang digunakan. Model-model evaluasi yang digunakan bertumpu pada aspek-aspek tertentu yang diutamakan dalam proses pelaksanaan kurikulum. Model evaluasi yang bersifat komparatif berkaitan erat dengan tingkah laku individu, evaluasi yang menekankan tujuan berkaitan erat dengan kurikulum yang menekankan bahan ajar (isi) kurikulum. Model antropologis dalam evaluasi ditujukan untuk menekankan tingkah laku dalam suatu lembaga sosial. Dengan demikian sesungguhnya ada hubungan yang sangat erat antara evaluasi dengan kurikulum sebab teori kurikulum  juga merupakan teori dari evaluasi kurikulum.
C. Pembahasan
Hasan, S.H. menyatakan bahwa evaluasi kurikulum untuk Tingkat Satuan Pendidikan dikembangkan dan mengacu pada pengembangan kurikulum satuan pendidikannya. Pendidikan dasar  dalam bentuk SD/MI dan SLTP/MTs merupakan satu satuan pendidikan yang saharusnya menyajikan kurikulum sesuai potensi dan kondisi di wilayahnya masing-masing serta memperhatikan sepuluh prinsip pengembangan KTSP. Dengan asumsi tersebut maka pengembangan evaluasi kurikulum bagi pendidikan dasar selayaknya diarahkan pada 1) evaluasi terhadap ide kurikulum, 2) dokumen kurikulum, 3) silabus, 4) proses (implementasi) kurikulum, dan 5) hasil belajar. Walaupun demikian pendapat lain  dari Syaodih , N.S  membagi evaluasi atas  tiga masa , yaitu 1) evaluasi desain kurikuum, 2) evaluasi implementasi kurikulum dan 3) evaluasi terhadap faktor-faktor penunjang dalam implementasi kurikulum.
Menggabungkan dua pendapat tersebut, dengan anggapan kondisi pendidikan dasar saat ini maka model evaluasi kurikulum yang digunakan diarahkan pada  evaluasi isi.  Konsep  evaluasi kurikulum pendidikan yang dimaksud dalam tulisan ini diarahkan pada pendidikan dasar  berwujud KTSP masa transisi karena sebagian besar lembaga pendidikan dasar saat ini masih belum  sepenuhnya menjalankan seraca terintegrasi konsep KTSP sesuai harapan pemerintah. Adanya keragaman sistem pe-nyelenggaraan di lapangan menempatkan evaluasi kurikulum yang disajikan masih bersifat temporer.
1.  Evaluasi Ide Kurikulum
Ide kurikulum  merupakan rumusan filosofi pendidikan yang dianut. Pandangan teoritik tentang konsep kurikulum , model kurikulum yang digunakan, konsep tentang konten, organisasi kurikulum, desain kurikulum serta posisi siswa dalam belajar (Hasan, S.H, 2008 : 121). Evaluasi kurikulum pendidikan dasar pada tatanan ide selayaknya diarahkan dan mengacu pada ide-ide tersebut. Beberapa komponen yang perlu dievaluasi berkenaan dengan:
a)    relevansi ide kurikulum dengan masyarakat.
b)   kejelasan rumusan ide kurikulum.
c)    pemahaman ide oleh tim pengembang kurikulum.
Pada kurikulum berstandar nasional, dengan model kompetensi maka evaluasi kurikulum juga harus diarahkan pada:
a)    teori pendidikan yang dianut dalam mengem-bangkan ide kurikulum     nasional menjadi ide kurikulum pendidika dasar.
b)   model kurikulum yang dipilih.
c)    teori belajar yang dianut, serta
d)   kebijakan evaluasi belajar yang digunakan
2. Evaluasi Desain (Dokumen) Kurikulum
Evaluasi desain kurikulum dapat dirancang lengkap , mencakup dasar-dasar kurikulum, struktur kurikulum, sebaran mata pelajaran, silabus, RPP, rancangan media, dan evaluasi atau terbatas pada komponen tertentu saja seperti silabus dan RPP saja. Kendati demikian Hasan mengarahkan evaluasi dokumen untuk  tujuan, proses pembelajaran, isi kurikulum, assesmen serta komponen pendukung (seperti buku, sumber informasi, alat dan suasana kelas, laboratorium ,dan dana). Komponen mana yang akan dipilih untuk evaluasi pendidikan dasar, tampaknya tergantung pada pengembangan kurikulum yang dianut oleh masing-masing sekolah.
Bagi pendidikan dasar, berdasarkan hasil loka karya Evaluasi KTSP di JICA tanggal 20 Nopember 2008  evaluasi terhadap dokumen KTSP Pendidikan dasar diarahkan pada komponen visi, misi, tujuan satuan pendidikan, struktur kurikulum, kalender pendidikan, silabus dan RPP. Evaluasi struktur kurikulum berkaitan dengan mata pelajaran, muatan lokal,  kegiatan pengembangan diri, beban belajar dengan paket,beban belajar dengan SKS, ketuntasan belajar, kenaikan dan kelulusan, penjurusan, pendidikan kecakapan hidup , pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global. Silabus berkenaan dengan pengkajian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar; materi pokok/ pembelajaran dan pengembangan kegiatan pembelajaran; rumusan indikator pencapaian kompetensi ; jenis penilaian; alokasi waktu  dan sumber belajar. Selanjutnya RPP berkaitan dengan Kompetensi Dasar, indikator, materi pembejaran kegiatan pembelajaran, media dan evaluasi hasil belajar. Seluruh komponen dan sub komponen tersebut selanjutnya dijabarkan dalam berbagai indikator evaluasi.
3. Evaluasi Implementasi Kurikulum
Kegiatan implementasi kurikulum  dapat dibedakan atas dua hal, pertama, kegiatan yang langsung berhubungan dengan proses pembelajaran siswa dan kedua, kegiatan penunjang serta pelengkap pem-belajaran. Kegiatan yang langsung berhubungan dengan proses pembelajaran adalah pembuatan persiapan mengajar, media dan evaluasi, pelaksanaan pem-belajaran teori, praktek, remedial, penyelesaian tugas-tugas, pelaksanaan evaluasi dll. Kegiatan pelengkap dan penunjang pembelajaran adalah kegiatan ko-dan ekstra-kurikuler, layanan bimbingan dan konseling, pengembangan diri serta pembinaan-pembinaan lainnya. Secara lebih rinci segi-segi yang perlu dievaluasi dalam pelaksanaan kurikulum meliputi:
1) Persiapan Pembelajaran
a)  Penyusunan Persiapan pembelajaran (RPP)
b)  Penyusunan Hand Out
c)  Pembuatan Media atau/  Alat Bantu Mengajar
2)  Pelaksanaan Pembelajaran Teori
a) Proses Pembelajaran
  • Metode atau Model Pembelajaran
  • Pengaktivan siswa
  • Pemberian Latihan
  • Pemberian Tugas
b) Penggunaan Media dan Sumber
  • Penggunaan Media atau Alat Bantu Pembelajaran
  • Penggunaan buku, hand out, perpustakaan, sumber lainnya
3) Pelaksanaan Evaluasi
a) Evaluasi Proses pembelajaran
  • Evaluasi kegiatan siswa dalam partisipasi di kelas.
  • Evaluasi kegiatan pengerjaan tugas dan latihan di kelas
  • Evaluasi kegiatan siswa di luar kelas (praktek)
b) Evaluasi Hasil Belajar
  • Evaluasi hasil belajar teori
  • Evaluasi hasil penyelesaian tugas dan latihan
  • Evaluasi hasil praktek di lapangan.
4)  Evaluasi pelaksanaan dan bimbingan siswa,
  • Segi/ masalah yang dibantu
  • Jumlah siswa dibimbing
  • Jumlah pembimbing
  • Tehnik/ teori pemberian bimbingan.
  • Kesulitan yang dihadapi dan cara mengatasinya.
4. Evaluasi Faktor-faktor  Pendukung Pelaksanaan Kurikulum
Banyak faktor yang mendukung implementasi kurikulum pendidikan dasar namun faktor-faktor yang cukup dominan dalam menunjang efektivitas implementasinya adalah personalia, siswa, sarana-prasaranaserta fasilitas, media dan sumber belajar , pengelolaan dan iklim belajar. Secara rinci faktor tersebut meliputi:
a)        Personalia
Unsur Pimpinan
  • Latar Belakang pendidikan, pengalaman
  • Kinerja unsur pimpinan
Guru
  • Latar belakang pendidikan dan pengalaman
  • Kinerja guru
Staf Administrasi
  • Latar belakang pendidikan, pengalaman dan kinerja
b)        Siswa
  • Kemampuan intelektual
  • Kehidupan keluarga
  • Kondisi ekonomi
c) Sarana-prasarana dan fasilitas
  • Ruang dan kelengkapan fasilitas kelas
  • Ruang dan kelengkapan perpustakaan
  • Fasilitas olah raga dan rekreasi
d)        Media dan sumber belajar
  • Buku teks,  majalah atau buku latihan
  • Media elektronik-non elektronik
e) Pengelolaan kurikulum
e)    Sistem adminstrasi pe-laksanaan pembelajaran (Dokumen dan pelaporan
nilai)
g)  Iklim Belajar
  • Sikap dan motivasi kepala sekolah dan guru
  • Sikap dan motivasi siswa
  • Hubungan, kerjasama, ikatan emosi antar personil di sekolah
D. Simpulan
Ada empat wilayah evaluasi kurikulum pendidikan dasar, yaitu: evaluasi ide, evaluasi desain (dokumen), evaluasi implementasi, dan evaluasi faktor-faktor pendukung pelaksanaan kurikulum. Evaluasi ide berkaitan dengan relevansi, kejelasan rumusan dan pemahaman ide kurikulum. Evaluasi desain diarahkan pada komponen visi, misi, tujuan, satuan pendidikan, struktur kurikulum, silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Evaluasi implementasi berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan pembelajaran, penggunaan media dan sumber belajar serta proses dan hasil belajar. Sementara itu, evaluasi terhadap faktor-faktor pendukung berkaitan dengan efektifitas personalia, siswa, sarana-prasarana, fasilitas, media, sumber relajar, pengelolaan dan iklim relajar.

Ditulis oleh: Dr. Hj. Erliany Syaodih, M.Pd
http://hipkin.or.id/?p=26

Daftar Pustaka:
Hasan, S.H. ( 2008). Evaluasi Kurikulum. Bandung : Remaja Rosdakarya
Sa’ud, U.S. ( 2008). Pendidikan Dasar dan Menengah dalam Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, Bandung  : Pedagogiana Press.
Sukmadinata, N.S. (2006). Pengembangan Kuri-kulum.: Teori dan Praktek. Bandung : PT Remaja   Rosdakarya
Depdiknas. (2006). Permen Diknas No 23 Thn 2006,. Tentang Standar Kemampuan Lulusan.
Depdiknas. (2006). Permen Diknas No 22 Thn 2006 Tentang Standar Isi.
Depdiknas. (2006). Permen Diknas No 22 Thn 2006 Tentang Pelaksanaan Permen Diknas No 22 dan 23.

Incoming search terms:
evaluasi kurikulum, model evaluasi kurikulum, tujuan evaluasi kurikulum, prinsip evaluasi kurikulum, evaluasi kurikulum pai, evaluasi pelaksanaan kurikulum, evaluasi kurikulum pendidikan, evaluasi kurikulum ktsp
administrasi Kepala Sekolah
your ad here

komentar

0 Responses to "Evaluasi Kurikulum Pendidikan Dasar: Satu Usulan"

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

eNews & Updates

Sign up to receive breaking news
as well as receive other site updates!

Labels